Haba Rakyat
LANGSA: Wakil Bupati Aceh Timur Nasruddin Abubakar,SPdi menerima kunjungan
Konsulat Jenderal Malaysia Medan Norlin Othman dikediamannya TM Bahrom Langsa
Barat, Selasa, (18/10). Kedatangan Konjen Malaysia beserta puluhan pengusaha
kayu karet yang tergabung dalam Malaysian Timber Cauncil dengan tujuan
melihat lebih jauh potensi kayu karet yang dimiliki Kab Aceh Timur serta
kesiapan pelabuhan kuala langsa.
Setelah
mengelar rapat dirumah dinas wakil bupati, rombongan bergerak ke pelabuhan
kuala langsa dan selanjutnya menuju salah satu usaha kayu karet di Kec
Rantau Seulamat Kab Aceh Timur. Kunjungan satu hari Konjen Malaysia Ibu Norlin
Othman di Aceh Timur dan Kota Langsa tersebut diharapkan akan memberi warna
baik bagi perdagangan ekonomi Malaysia-Aceh.
Dalam
kesempatan tersebut, Ketua Delegasi Malaysian Timber Counsil, Mr Abdullah Abdul
Malek, mengatakan kesempatan baik ini kita gunakan dalam rangka mengetahui
lebih jauh potensi Aceh Timur, khususnya kayu karet. Hal ini mengingat
kebutuhan kayu karet di Malaysia saat ini sangat lah menjanjikan, pasalnya
banyak industry perabot sedang berkembang pesat di Malaysia dan beberapa
Negara.
Walaupun
kita tahu saat ini di Aceh sedang berlaku moratorioum loging, tapi kita yakin
suatu saat kebijakan ini akan dirubah. Makanya peluang baik ini akan terus kita
jaga sehingga hubungan baik antara Malaysia dengan Aceh terus terjaga dengan
baik. Dan kita juga sangat yakin, iklim investasi terus bergerak pesat di Aceh
seiring semakin kondusifnya kondisi keamanan, ini terbukti saat ini banyak
pengusaha mulai melirik Aceh Timur untuk berinvetasi.
“kita
berharap hubungan baik yang sudah terjalin ini akan terus dapat terjaga,
sehingga apa yang menjadi peluang-peluang usaha dan investasi dapat
dijalankan bersama dengan konsep saling menguntungkan,” sebutnya.
Sementara
itu, Wakil Bupati Aceh Timur, Nasruddin Abubakar,SPdi, yang didampingi beberapa
dinas terkait mengatakan Kab Aceh Timur memiliki potensi besar untuk usaha kayu
karet, mengingat luas lahan kayu karet saat ini mencapai puluhan ribu hektar.
Angka ini belum mencakup kebun-kebun rakyat, yang note bene sudah tidak lagi
berfungsi secara maksimal karena umur pohon karet yang sudah mencapai 30 tahun.
Karena
belum memiliki bapak angkat, akhirnya warga engan memotong pohon yang sudah
expired (kadaluarsa). Dan terus saja melakukan penderesan, walau hasil getahnya
sudah tidak lagi maksimal, bila suatu saat ada pengusaha yang mau menginvestasi
pengelolaan kayu tersebut, pemerintah Aceh Timur akan mendorong usaha tersebut,
asalkan pengusaha mau berkerja sama dengan memberi bibit baru kepada mareka.
Memang
langkah memberi bibit baru kepada para petani karet tetap dilakukan Pemkab Aceh
Timur, tapi belum maksimal mengingat luas lahan yang dimiliki masyarakat.
Kondisi ini juga pemkab berharap pihak ketiga datang ke Aceh Timur untuk
berinvestasi, dan segala urusan terkait administrasi akan dipermudah. Ujar
Nasruddin.
Selain
memiliki potensi kayu karet, Kab Aceh Timur juga salah satu penghasil kelapa
sawit terbesar di Aceh, kondisi ini juga membuat Aceh Timur menjadi salah satu
daerah tujuan investor sawit juga. Dan tidak sedikit saat ini berdiri banyak perusahan
perkebunan kepala sawit. Bahkan PTPN I Aceh sendiri memiliki kebun terluas di
Kab Aceh Timur.
Walupun
demikian, masih banyak lahan wilayah Aceh Timur yang belum tersentuh, dan masih
ditumbuhi kayu-kayu yang berkwalitas ekspor. Jeda pemotongan kayu yang
sedang diberlakukan pemerintah Aceh memberi hal yang sangat postif bagi hutan
Aceh Timur dari jarahan cukong-cukong kayu asal luar negeri dengan
mengunakan tangan-tangan pribumi.
Kebijakan
jeda pemotongan kayu tersebut hanya berlaku bagi kayu-kayu kwalitas saja
seperti marenti, dammar, merbau dan beberapa jenis berat lainya, sementara bagi
kayu-kayu rakyat, seperti pohon karet, durian, sentang, jabon, dan sengon tidak
dibatasi.
Namun begitu, walau dalam kondisi jeda potong
kayu di Aceh, namun minat warga masyarakat untuk menanam kayu saat ini sangat
tinggi. Kondisi ini juga membuat Aceh dalam lima tahun kedepan akan
kebanjiran kayu. Untuk itu jika ada pengusaha kayu yang ingin menginvestasi
modalnya maka pemerintah Aceh Timur sangat memberi respon. Ujar Nasruddin lagi
seraya menambahkan kondisi pelabuhan kuala langsa saat ini cukup kondusif bagi
iklim investasi tersebut.