Rabu, 08 Februari 2012

Gaga-Gara Konfirmasi Jalan Berdebu Wartawan Alami Pemukulan Di Polsek


Haba Rakyat

BANDA ALAM: Setelah Darma S, 37, wartawan Koran Monitor terbitan Medan ditemukan tewas dalam sebuah parit di Aceh Tenggara, kini giliran Basri, 34, wartawan Radar Nusantara terbitan Jakarta mengaku dipukul. Anehnya, pemukulan itu terjadi di dalam Kantor Polsek Banda Alam, Kab. Aceh Timur, Selasa (8/2).

Kejadian yang menimpa insan pers itu terjadi sekira pukul 16:00 petang. Pemukulan yang dialami Basri tersebut terjadi dihadapan petugas kepolisian setempat. Meski pemukulan yang dialami seorang wartawan yang bertugas di Aceh Timur itu terjadi di Mapolsek, namun kepolisian setempat tidak menangani kasus tersebut dan Basri dengan inisiatif sendiri melaporkannya ke Polres Aceh Timur sekira pukul 16:00.

Basri, korban pemukulan di Polsek Banda Alam menjelaskan, awalnya Basri yang beralamat di Desa Gampong Jawa, Kecamatan Idi Rayeuk ke Banda Alam dengan tujuan membuat laporan kehilangan atas surat tanah milik keluarganya di Mapolsek Banda Alam, Selasa (7/2) sekira pukul 12:00.

Namun karena Kapolsek sedang menerima tamu lain, sehingga Basri memutuskan untuk menunggu di depan Mapolsek setempat persisnya di salah satu Warung Kopi (Warkop). Beberapa warga yang sedang menikmati di secangkir kopi di Warkop tanpa sengaja memberikan masukan terkait tebalnya debu akibat terlantarnya jalan utama di depan SDN 1 Banda Alam sejak tiga bulan yang lalu.

“Setelah menerima keluhan warga setempat, lalu melalui telepon saya hubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Aceh Timur, H. M. Yusuf Adam. Beliau (Kadis PU) mengatakan, bahwa jalan yang berdebu itu adalah proyek pengaspalan jalan yang sedang dikerjakan oleh rekanan. Kadis PU juga mengaku, bahwa hari ini (Rabu—red) jalan tersebut akan dilanjutkan pengerjaannya,” papar Basri.

Selain melakukan konfirmasi sebuah pemberitaan terkait terlantarnya pembangunan pengaspalan jalan di Banda Alam, lanjut Basri, dirinya juga ingin mengetahui persis total anggaran dan proyek tersebut anggarannya dari mana. “Tak lama kemudian, saya ditelpon seseorang untuk menjumpainya terkait persoalan jalan yang saya tanyakan ke Kadis PU Aceh Timur,” sebut Basri.

Karena ditolak untuk menjumpainya, sambung Basri, selanjutnya selang setengah jam Basri didatangi dua pemuda yakni S dan seorang pemuda lainnya tidak diketahui namanya, tapi akrap disapa KS. “Begitu sampai di depan Warkop, saya diminta untuk naik ke mobil milik S, tapi saya menolaknya. Sehingga S mengajak saya ke dalam Kantor Polsek,” kisah Basri lagi.

Sesampai di dalam Kantor Polsek, Basri duduk di kusri. Spontan Basri ditarik dibaju oleh S dan dipukul dengan tangan oleh KS dibagian pipi kanan. Namun Basri tidak membalasnya, kecuali hanya sedikit menjawab konfirmasi yang dilakukan ke Kadis PU Aceh Timur terkait jalan tersebut adalah hak jawab yang diberikan dirinya dalam sebuah pemberitaan.

“Saya mencoba menjelaskan, tapi S dan KS terus menyalahkan saya. Keduanya mengaku, gara-gara dikonfirmasi oleh wartawan terkait terlantarnya jalan tersebut kini dirinya tidak bisa bekerja lagi dan akan mengalami kerugian,” kata Basri lagi seraya mengatakan, saat kejadian Basri tidak mampu melawan dan berbuat banyak kecuali hanya menerima serangan mulut dari S dan KS.

Setelah beberapa saat kemudian, Kapolsek Banda Alam bersama personelnya melerai pertengakaran mulut antara Basri dengan S dan KS. “Karena Kapolsek tidak mengatakan apapun dan tidak menyelesaikannya di Polsek Banda Alam, sehingga kasus pemukulan ini saya laporkan ke Polsek dengan Nomor: SPPL/14/II/2012/Aceh/SPK tertanggal 7 Februari 2012 tentang tindak pidana pemukulan,” tandas Basri.

Menjelang berita ini diturunkan, Waspada mencoba melakukan konfirmasi dengan Kapolres Aceh Timur, AKBP Drs Ridwan Usman melalui Kapolsek Banda Alam, Didik S. Namun hingga berita ini diturunkan belum berhasil dimintai keterangannya. Bahkan beberapa kali dihubungi melalui handphone (HP) yang selama ini digunakan untuk keperluan dinas tidak aktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar