Selasa, 04 Oktober 2011

Pemilukada Momentum Pembelajaran Politik


Haba Rakyat, 

LANGSA—Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) yang merupakan pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini adalah salah satu momentum untuk pembelajaran politik secara terbuka bagi seluruh rakyat Aceh. Karena semua lapisan masyarakat dari tingkat awam sampai pada tingkat politikus sendiri dituntut terlibat dan berperan langsung dalam proses pemilukada tersebut, Selasa (4/10).

“Jadi Pemilukada jangan hanya diartikan sebagai pertarungan politik bagi para elit atau tokoh semata dan sebagai ajang memperebutkan kekuasaan. Tapi jauh dibalik itu, pemilukada ini merupakan salah satu media pembelajaran yang sangat baik tentang perpolitikan bagi seluruh rakyat Aceh tanpa terkecuali,” demikian ungkap tokoh akademisi STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Drs. Marzuki Hamid, MM menjawab Rakyat Aceh kemarin.

Dijelaskannya, bahwa dengan adanya moment pemilukada tersebut maka seluruh masyarakat Aceh baik generasi yang baru tumbuh atau generasi yang sudah mulai terlibat langsung saat ini (pemilih-red) dapat melihat dan mengambil suatu pembelajaran tentang poltik yang baik dan benar.

Karenanya, dengan moment ini para tokoh dan elit politik serta pelaku politik harus memberikan contoh pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat umum dan generasi masa depan. “Artinya, kita yang hari ini pada posisi pelaku politik harus bisa memberikan dan menyampaikan bagaimana politik yang benar dan santun kepada masyarakat,” sebut Marzuki yang merupakan Puket II STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa ini.

Lanjutnya, contoh pembelajaran politik positif yang harus diberikan kepada masyarakat dan generasi masa depan oleh para pelaku politik hari ini adalah bagaimana sebuah sikap politik yang dewasa. Yaitu dalam pertarungan politik para pihak yang terlibat harus mampu menerima konsekuensi dari pertarungan itu dengan sikap lapang dada dan mengakui kekalahan serta tidak sombong dengan kemenangan yang diraih.

“Permusuhan tidak perlu ada dalam kancah politik, memang perbedaan pandangan dan pilihan itu mutlak hak masing-masing individu atau kelompok. Tapi di penghujung sebuah agenda seperti Pemilukada ini, semua pelaku politik yang terlibat langsung maupun tidak langsung harus mampu memberikan suatu apresiasi positif kepada masyarakat, bukan malah sebaliknya dengan membentuk sebuah opisisi,” terang Marzuki lagi.

Ditambahkannya, apalagi tujuan utama dari setiap pertarungan politik untuk kekuasaan adalah untuk mewujudkan konsep-konsep pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat yang telah dituangkan dalam visi-misi. Dimana semua tujuan itu tentunya menjadi dasar bagi setiap pelaku politik. “Jadi siapapun yang menang tetap untuk rakyat dan rakyat harus belajar dari kondisi ini (Pemilukada-red),” demikian Marzuki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar