LANGSA: Protes terhadap kebijakan yang diambil Badan Pengelolaan
Pembangunan Komplek Pasar dan Perbelanjaan (Bapekopas) Kota Langsa kini makin
meluas. Setelah para pedagang penyewa kios merasa diperas dengan penjualan
tempat ratusan juta rupiah, sekarang giliran para pedagang ikan menyatakan
kekecewaannya.
![]() |
| Pak Bit |
Mereka tidak terima sebuah mushalla yang ada di komplek pasar ikan telah
dibongkar, dan sekarang di tempat itu
mau dibangun kios-kios baru untuk dijual kepada para pedagang.
“Ini perbuatan yang melecehkan terhadap agama,” demikian kata Ketua
Pedagang Pasar Ikan Langsa Yuldarwin yang akrab disapa Pak Bit (foto) kepada
waspada di pasar Ikan Langsa, Rabu (16/5).
Menurutnya, keberadaan mushalla di komplek pasar ikan dulunya sangat
dirasakan manfaatnya oleh para pedagang untuk tempat beribadah. Terutama untuk
melaksanakan shalat subuh, dhuhur dan ashar. Karena umumnya para pedagang ikan
datang sebelum waktu subuh dan pulang menjelang magrib.
Sekarang, kata Pak Bit, sejak mushalla itu dibongkar para pedagang ikan
sangat kesulitan mencari tempat untuk shalat. Terpaksa harus pergi ke mesjid
atau pulang ke rumah yang memakan waktu lebih lama. Bahkan tidak jarang ada
pedagang yang ketinggalan waktu shalat.
Selain itu, tambahnya, selama pembongkaran mushalla tersebut kegiatan
pengajian yang dilakukan persatuan para pedagang ikan selama ini seminggu dua
kali juga sudah terhenti secara total, karena tidak ada tempat lagi bagi mereka
untuk melakukannya.
Jika tidak segera dibangun mushalla baru di tempat itu, tambahnya,
dikhawatirkan para pedagang yang melupakan waktu-waktu shalat bisa lebih banyak
lagi. Sementara di sisi lain pemerintah sedang gencar-gencarnya mengajak warga
untuk melaksanakan Syariat Islam. Ini merupakan suatu kebijakan yang paradoks,
ujar Pak Bit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar