Minggu, 16 Oktober 2011

Saudagar Aceh Dulu Mulai Dari Muge


Haba Rakyat,

LANGSA: Meskipun dulunya saudagar Aceh mulai dari muge tetapi dalam kiprahnya pernah menjadi modal bagi lahirnya kemerdekaan RI. Semengat tersebut perlu kiranya dipupuk kembali kembali agar ekonomi di Aceh bisa cepat bangkit.

Demikian antara lain dikatakan Ketua Kadin Aceh, H. Firmandez, ketika memberi arahannya kepada 100 orang pemuda darti Kabiupaten Aceh Timur yang jadi peserta pelatihan wirausahawan, selama dua hari sejak Jumat (14/10) di aula Hotel Harmoni Langsa.

Sebanyak 100 pemuda yang dilatih itu terdiri dari pengusaha kecil, mahasiswa, santri, dan anggota Kadin  serta Hipmi setempat. 

H. Firmadez mengatakan, sebelum adanya APBA/APBD, dana dari saudagar menajdi penggerak ekonomi Aceh. Selat Malaka menjadi pintu perdagangan santara Timur dan Barat, serta pedagang dari Yaman dan Gujarat singgah di Aceh membeli hasil bumi. Kemudian Samudra Pasai sebagai pusat Islam dan perdagangan Aceh, Malaka, dan Portugis, juga menjadi pusat pelaku perdagangan International.

Aceh saat itu juga berperan dalam kemerdakaan RI, kata dia, dan saudagar bersama rakyat Aceh berhasil mmenyumbangkan pesawat RI-1 dan RI-2 dan emas 20 kg. Bahkan ketika itu semangat berkongsi Aceh dengan sistem manajemen baru dialukukan dengan membentuk Firma, seperti Aceh Kongsi, Firma Murni, Fa Puspa, NV Bukti, Tenaga Desa, Lohknga Company, Damai, Indoklin, dan lainnya.
Ketika itu saudagar kita berawal dari muge, lalu punya relasi dagang dengan Penang, India, Cina, kemudian menjadi saudagar besar, hingga menjadi modal bagi kemerdekaan RI” katanya.
Dia menambahkan, namun kondisi saudagar aceh masa kini berawal dari tahun 1967, mulai terbius dengan kegiatan proyek-proyek pemerintah. Para pengsuaha lebih banyak memilih kegiatan jangka pendek dasri pada masa panjang, dan para lulusan Perguruan Tinggi lebih memilih menjadi pekerja di sektor pegawai negeri maupun sektor swasta. Selanjutnya konflik berkepanjangan dan Tsunami yang melanda Aceh pada akhir tahun 2004 silam juga telah menghancurkan semangat kebanyakan saudagar.

Menurutnya, bagi dunia usaha untuk bangkit kembali bukan hal yang mudah. Dengan kondisi dunia usaha di Aceh saat ini, dengan jumlah usaha relative rendah, namun semangat cukup tinggi. Untuk itu perlu dioptimalkan kembali melalui program mewujudkan sejuta saudagar.

 Namun untuk mewujudkannya, diantaranya dengan adanya pengalaman di masa krisis pengusaha atau saudagar terutama UMKM di daerah Aceh lebih mampu bertahan.Sehingga dengan akan tumbuhnya lagi UMKM dan suaha lainnya akan membuka lapangan kerja, dan pengusaha atau saudagar UMKM tidak hanya menjadi tulang punggung tetapi alat perang di pasar global.

Namun ada berapa factor lainnya yang dapat menghambat kembali tumbuhnya saudagar Aceh, diantaranya isu tingginya pengangguran merupakan isu lama dan klasik yang selama ini belum dapat diatasi dengan baik.

Selanjutnya isu rendahnya investasi merupakan produk dari kekurangan kepercayaan investor atau saudagar lokal terhadap kondisi perekonomian Aceh, termasuk masalah politik dan kemanan. Kemudian pengaruh isu krisis juga ikut berperan terhadap aktivitas ekonomi perekonimian Aceh ke depan, termasuk peranan pengusaha, ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar