LANGSA : Ketua Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Kota Langsa, Cut
Lem, menyerukan kepada para ulama, terutama yang tinggal di Aceh, agar jangan
ada yang patah semangat dengan insiden pemukulan khatib di Sigli. Walaupun
nyawa taruhannya, ulama harus tetap berani menyeru umat berbuat benar dan
mencegah mereka berbuat mungkar.
Cut Lem menyampaikan seruan tersebut kepada Waspada di Langsa, Senin
(12/9), menanggapi peristiwa memalukan yang terjadi di Mesjid Keumala, Sigli,
Jumat (9/9) lalu. Dimana Tgk Saiful Ahmad bin Abu, yang bertindak sebagai katib
diturunkan dan dianiaya sejumlah jamaah yang tidak senang terhadap si
khutbahnya.
Menurut Cut Lem, apa yang menimpa Tgk. Syaiful tersebut, bukanlah yang
pertama terjadi dalam sejarah Islam. Bahkan cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina
Hussein, sampai dipenggal kepalanya di Padang Karbala, demikian juga imam-imam
mazhab, mereka juga ada yang dianaiya pihak-pihak yang berkuasa pada masanya.
Maka itu, selaku Ketua Lira Kota Langsa, Cut Lem menyamakan peristiwa yang
menimpa Tgk. Syaiful tersebut dilihat dari sudut kekejiannya lebih parah dari
Zaman jahiliyah karena pelakunya adalah ummat islam itu sendiri. Tapi bila
dilihat dari sudut perjuangan ulama menegakkan kebenaran itu belum apa-apa
dibanding dengan perjuangan ulama pada masa lalu.
Sikap Lira Kota Langsa terhadap peristiwa itu, kata dia, mengecam keras dan
meminta pihak berwajib supaya mengusut tuntas dan menindak pelakunya secara
hukum. Karena perbuatan itu dalam islam sangat biadab, telah merusak kesucian
rumah Allah dan sekaligus penghinaan terhadap agama Islam.
Menurut Cut Lem, setahu dia, ajaran Islam sangat menghormati kesakralan
mesjid. Orang bersalah saja jika sudah berlindung ke dalam mesjid, mereka wajib
dilindungi keselamatan jiwanya saat itu, walalupun nanti harus dihukum sesuai
syariat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar