Rabu, 07 September 2011

Rangkang, Jambo Dan Dapu Naik Pangkat


Haba Rakyat, LANGSA : 

NOSTALGIA pada masa yang lalu selalu indah untuk dikenang. Saat-saat sulit ketika masa perjuangan, tidak pernah bisa dilupkan ketika keberhasilan sudah digenggam. Bahkan kepada anak cucu pun selalu diceritakan, agar mereka tahu walaupun tidak pernah merasakan bagaimana getirnya sebuah perjuangan.
 
Pada perayaan kemerdekaan Indonesia misalnya, generasi yang hidup sekarang selalu mengenang bagaimana susahnya perjuangan  generasi pada masa yang lalu saat mereka berperang melawan penjajahan Belanda ataupun Jepang. Setiap tahun pada Bulan Agustus, anak-anak sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta selalu menggelar pawai keliling kota, menggunakan atribut-atribut perjuangan.

Senjata pedang dan bambu runcing, pakaian compang camping, serta berbagai hal lain yang melambangkan kesederhanaan dan penderiataan dalam perjuangan, setiap tahun ada  dipamerkan dalam rombongan para peserta pawai tujuh belasan. Semua perilaku itu tentunya bukanlah keingin untuk diulang, melainkan untuk mengenang masa-masa lalu yang penuh keprihatinan, walaupun dalam kepedihan tetapi semangat berjuang tak pernah padam.

Kekuatan semangat pada kenangan masa lalu memang tidak pernah bisa dihempang, selalu terpatri dalam ingatan, bahkan tak jarang ada orang yang menyediakan waktu khus untuk melakukan napak tilas.

 Bagi pelaku bisnis yang jeli, keadaan seperti ini selalu bisa menjadi peluang. Mereka memenfaat moment-moment masa lalu untuk mempengaruhi secara psikologi dan menarik keuntungan dengan menjualnya apa yang dapat dijual. Seperti yang terjadi di Kota Langsa sekarang, Rangkang, Jambo, dan Dapu menjadi sumber pendapatan sebagian pengusaha warung kopi yang nalar bisnisnya tajam.

Mereka tahu, Rangkang, Jambo, dan Dapu itu adalah nama-nama tempat yang dulunya tak pernah berada di tengah kota. Rangkang adalah bangunan terbuka di tengah sawah tempat beristirahat setelah mengolah tanah, Jambo biasanya terdapat dihutan-hutan tempat beristirahat orang berladang, sedangkan Dapu adalah tempat memasak baik yang berada di rumah bagian belakang ataupun yang dibuat sekali pakai saat ada hajatan.

 Pada masa konflik Aceh dulu, ketiga nama tersebut merupakan nama-nama tempat yang sering dipergunakan para gerilyawan GAM bersembunyi. Karena menghindar dari pencarian oleh aparat mereka tidak tidur rumah, maka di tempat-tempat itulah mereka bermalam. 

Sekarang, karean para mantan gerilyawan GAM banyak yang sudah senang dan hidup mapan, karena ada yang sudah jadi bupati atau walikota, jadi anggota dewan atau pengusaha, tentunya mereka sekali-kali ingin bernostalgia. Maka pengusaha warung kopi di Langsa cepat membaca, lalu diberilah nama warung-warung kopi yang baru mereka buka itu dengan nama nama Rangkang Kupi, Jambo Kupi, dan Dapu Kupi.

Apa yang dilakukan para pengusaha warung kopi tersebut, ternyata memang berbuah manis. Bukan hanya mantan gerilyawan GAM yang gemar datang ke situ, melainkan penikmat-penikmat kopi yang lain ikut meramaikannya. Maka jangan heran, jika sekarang bertandang ke Kota Langsa, Rangkang, Jambo dan Dapu bukan lagi hanya berada di hutan, ketiganya sudah naik pangat berada di tengah-tengah kota dan selalu ramai pengunjungnya.*** Ibnu Sa’dan ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar