NOSTALGIA pada masa yang lalu selalu indah untuk dikenang. Saat-saat sulit ketika masa perjuangan, tidak pernah bisa dilupkan ketika keberhasilan sudah digenggam. Bahkan kepada anak cucu pun selalu diceritakan, agar mereka tahu walaupun tidak pernah merasakan bagaimana getirnya sebuah perjuangan.
Pada perayaan kemerdekaan Indonesia misalnya, generasi yang hidup sekarang
selalu mengenang bagaimana susahnya perjuangan generasi pada masa yang lalu saat mereka
berperang melawan penjajahan Belanda ataupun Jepang. Setiap tahun pada Bulan
Agustus, anak-anak sekolah, instansi-instansi pemerintah dan swasta selalu
menggelar pawai keliling kota, menggunakan atribut-atribut perjuangan.
Senjata pedang dan bambu runcing, pakaian compang camping, serta berbagai
hal lain yang melambangkan kesederhanaan dan penderiataan dalam perjuangan, setiap
tahun ada dipamerkan dalam rombongan
para peserta pawai tujuh belasan. Semua perilaku itu tentunya bukanlah keingin
untuk diulang, melainkan untuk mengenang masa-masa lalu yang penuh
keprihatinan, walaupun dalam kepedihan tetapi semangat berjuang tak pernah
padam.
Kekuatan semangat pada kenangan masa lalu memang tidak pernah bisa
dihempang, selalu terpatri dalam ingatan, bahkan tak jarang ada orang yang
menyediakan waktu khus untuk melakukan napak tilas.
Bagi pelaku bisnis yang jeli,
keadaan seperti ini selalu bisa menjadi peluang. Mereka memenfaat moment-moment
masa lalu untuk mempengaruhi secara psikologi dan menarik keuntungan dengan
menjualnya apa yang dapat dijual. Seperti yang terjadi di Kota Langsa sekarang,
Rangkang, Jambo, dan Dapu menjadi
sumber pendapatan sebagian pengusaha warung kopi yang nalar bisnisnya tajam.
Mereka tahu, Rangkang, Jambo, dan
Dapu itu adalah nama-nama tempat yang
dulunya tak pernah berada di tengah kota. Rangkang
adalah bangunan terbuka di tengah sawah tempat beristirahat setelah mengolah
tanah, Jambo biasanya terdapat
dihutan-hutan tempat beristirahat orang berladang, sedangkan Dapu adalah tempat memasak baik yang
berada di rumah bagian belakang ataupun yang dibuat sekali pakai saat ada
hajatan.
Pada masa konflik Aceh dulu, ketiga
nama tersebut merupakan nama-nama tempat yang sering dipergunakan para
gerilyawan GAM bersembunyi. Karena menghindar dari pencarian oleh aparat mereka
tidak tidur rumah, maka di tempat-tempat itulah mereka bermalam.
Sekarang, karean para mantan gerilyawan GAM banyak yang sudah senang dan
hidup mapan, karena ada yang sudah jadi bupati atau walikota, jadi anggota
dewan atau pengusaha, tentunya mereka sekali-kali ingin bernostalgia. Maka
pengusaha warung kopi di Langsa cepat membaca, lalu diberilah nama
warung-warung kopi yang baru mereka buka itu dengan nama nama Rangkang Kupi, Jambo Kupi, dan Dapu Kupi.
Apa yang dilakukan para pengusaha warung kopi tersebut, ternyata memang
berbuah manis. Bukan hanya mantan gerilyawan GAM yang gemar datang ke situ,
melainkan penikmat-penikmat kopi yang lain ikut meramaikannya. Maka jangan
heran, jika sekarang bertandang ke Kota Langsa, Rangkang, Jambo dan Dapu bukan lagi hanya berada di hutan,
ketiganya sudah naik pangat berada di tengah-tengah kota dan selalu ramai
pengunjungnya.*** Ibnu Sa’dan ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar